Loading
Muhammad Ismail

Arabic Language Lecturer

Researcher in Arabic Language

Author

Website Developer

  • About
  • Resume
  • Book
  • Article
  • Research
  • Link
  • Blog
Muhammad Ismail

Arabic Language Lecturer

Researcher in Arabic Language

Author

Website Developer

Download CV

Recent Posts

  • Classical Test Theory vs Item Response Theory dalam Tes Bahasa Arab
  • Taksonomi Evaluasi Bahasa Arab: Diagnostik, Formatif, dan Sumatif
  • Memahami Perbedaan Evaluasi, Asesmen, Pengukuran, dan Tes dalam Pembelajaran Bahasa Arab
  • Apa Itu Evaluasi Pembelajaran Bahasa Arab?
  • Tes Adaptif Bahasa Arab Berbasis ACTFL: Inovasi Evaluasi Bahasa di Era Digital

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • February 2026
  • January 2026
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025

Categories

  • Bahasa
  • Evaluasi
  • Opini
  • Penelitian
Blog Post

Dari Sorogan ke Artificial Intelligence: Merajut Masa Depan Cara Belajar Bahasa Arab

November 26, 2025 Bahasa by Ismail
Dari Sorogan ke Artificial Intelligence: Merajut Masa Depan Cara Belajar Bahasa Arab

Bayangkan sebuah kelas bahasa Arab di suatu sore yang tenang. Di barisan depan, ada mahasiswa yang datang karena ingin bisa membaca Al-Qur’an dan kitab kuning dengan nyaman. Di belakang, duduk beberapa mahasiswa lain yang bercita-cita bekerja di Timur Tengah, bercakap-cakap dengan klien dalam bahasa Arab yang hidup. Di ruangan yang sama, dua dunia motivasi bertemu: yang satu digerakkan oleh sakralitas, yang lain oleh pragmatisme.

Bahasa Arab di hadapan mereka bukan sekadar kumpulan huruf dan kaidah. Ia adalah bahasa dengan akar-akar triliteral yang berkelindan, morfologi yang seolah tak habis diurai, dan realitas diglosia yang selalu membayangi: Fusha yang formal dan “tinggi”, Ammiyah yang cair dan digunakan di pasar, rumah, dan jalanan. Bagi penutur non-Arab, belajar bahasa ini ibarat berjalan di kota dengan dua lapisan: satu kota resmi di peta, dan satu lagi kota hidup yang hanya bisa dirasakan ketika berbicara dengan penduduknya.

Sebagian pembelajar masuk kelas dengan membawa harapan spiritual: ingin memahami firman Tuhan, doa-doa, dan teks klasik yang selama ini hanya dibaca lewat terjemahan. Fokus mereka biasanya tertuju pada kemampuan membaca dan analisis nahwu-sharaf. Kalimat-kalimat panjang dalam kitab turats menjadi arena latihan mereka.

Di sisi lain, ada yang masuk dengan membawa peta karier: membayangkan diskusi akademik dengan profesor Arab, negosiasi bisnis di Dubai, atau tugas diplomatik di Amman. Mereka mengharapkan kelas yang banyak latihan berbicara, simulasi dialog, dan ekspresi spontan. Dua arus ini membuat pengajar harus terus-menerus bertanya dalam hati: bagaimana merancang pembelajaran yang bisa menjawab kebutuhan keduanya tanpa mengorbankan salah satu?

Di balik dinamika kelas yang tampak sederhana, ada pergulatan teori panjang. Behaviorisme, misalnya, mungkin terdengar kuno, tetapi jejaknya jelas terlihat di setiap buku tashrif dan latihan tasrif yang tak terhitung jumlahnya. Saat seorang mahasiswa mengulang perubahan fi’il dari مَرَّ إلى يَمُرُّ, dari كَتَبَ إلى يَكْتُبُ, puluhan kali sampai terasa otomatis, di sanalah semangat behavioristik bekerja. Otak dilatih untuk mengenali pola, lidah dilatih untuk mengulang bentuk, dan kesalahan-kesalahan kecil dipotong melalui penguatan berulang.

Di era digital, semangat ini tidak hilang, tetapi berganti wajah dalam bentuk gamifikasi: aplikasi yang memunculkan poin, bintang, dan lencana; notifikasi yang memanggil, “Ayo lanjutkan streak-mu hari ini”; koreksi instan setiap kali ada jawaban salah. Drill lama kini hadir dengan tampilan cerah dan suara notifikasi menyenangkan, tetapi logikanya tetap sama: respon benar diberi hadiah, respon salah diarahkan ulang.

Namun, pembelajaran bahasa tidak berhenti di sana. Di balik hafalan pola dan latihan soal, ada medan lain yang tak kalah menantang: medan kognitif. Otak pembelajar bekerja keras setiap kali berhadapan dengan kalimat Arab tanpa harakat. Ia harus menebak bunyi vokal dari konteks, mengidentifikasi akar kata, memadukan bentuk dan makna dalam satu tarikan napas.

Bagi banyak siswa, refleks pertama ketika menulis adalah menyusun kalimat dulu dalam bahasa ibu, baru kemudian diterjemahkan ke bahasa Arab. Proses ini sekilas tampak aman, tetapi diam-diam membebani memori kerja. Kalimat harus “diterjemahkan” dua kali: dari ide ke bahasa ibu, lalu dari bahasa ibu ke bahasa Arab. Beban mental menumpuk, dan energi yang mestinya dipakai untuk memilih kosakata tepat habis untuk mengelola “proses ganda” ini.

Di sinilah teori kognitif memberi peringatan: memori kerja manusia terbatas. Ketika siswa terlalu sering berpindah antara kamus bilingual, layar, dan lembar kerja, perhatian mereka terpecah. Konsentrasi tersedot ke aktivitas mencari kata, bukan ke alur gagasan. Sebaliknya, ketika mereka dilatih untuk pelan-pelan berpikir dalam bahasa Arab—meski dengan struktur sederhana—dan diperkenalkan pada kamus monolingual atau strategi parafrase, beban itu mulai berkurang. Menulis tidak lagi terasa seperti mengangkat dua beban sekaligus.

Di luar urusan struktur dan memori, ada dimensi lain yang memberi warna pada proses belajar: interaksi. Di zaman ini, interaksi tidak hanya terjadi di kelas fisik, tetapi juga di ruang-ruang digital yang tak pernah tidur. Sebuah grup Telegram, misalnya, bisa berubah menjadi “kelas bayangan” yang justru lebih hidup daripada ruang kuliah resmi. Di sana, mahasiswa berbagi voice note pendek, bertanya tentang kosakata, mengirim meme berbahasa Arab, atau sekadar iseng menyapa teman dengan dialek yang baru mereka pelajari. Di ruang seperti ini, zona perkembangan proksimal—wilayah antara “saya sudah bisa sendiri” dan “saya baru bisa kalau dibantu”—aktif setiap hari. Mahasiswa yang lebih mahir spontan menjawab pertanyaan temannya; yang masih malu bicara di kelas berani mengirim rekaman suara di grup.

Dari interaksi kasual semacam ini lahir berbagai proyek kecil: tugas membuat video pendek berbahasa Arab, majalah dinding kelas, atau kampanye media sosial tentang ungkapan sehari-hari. Di balik proyek-proyek itu, konstruktivisme bekerja sunyi: pengetahuan tidak lagi ditransfer begitu saja dari guru ke siswa, melainkan dibangun bersama. Bahasa Arab berubah dari “materi ujian” menjadi alat untuk mengerjakan sesuatu yang terasa nyata.

Namun semua pendekatan ini akan pincang kalau satu aspek diabaikan: perasaan. Bagi sebagian siswa, bahasa Arab hadir dengan beban psikologis yang cukup berat. Ada yang menghubungkannya dengan konflik global dan berita-berita menegangkan; ada yang merasa bahasa ini terlalu sakral untuk “diutak-atik”, sehingga takut salah setiap kali berbicara. Di kelas-kelas tertentu, sorot mata guru ketika mendengar kesalahan nahwu cukup untuk membuat siswa enggan mengangkat tangan lagi.

Di sinilah pendekatan humanistik mengingatkan bahwa tugas pengajar bukan hanya mengisi kepala, tetapi juga menjaga hati. Ketika kelas diatur sebagai ruang aman, ketika kesalahan dibingkai sebagai bagian normal dari proses, ketika materi dihubungkan dengan minat dan kehidupan nyata siswa, sesuatu yang pelan tapi pasti berubah. Bahasa Arab tidak lagi terlihat sebagai “dinding tinggi yang dingin”, tetapi sebagai jembatan yang bisa dilalui pelan-pelan, dengan bantuan orang lain.

Sementara itu, di luar pesantren dan kampus di Nusantara, di universitas-universitas Barat, dinamika yang berbeda muncul. Di sana, bahasa Arab lebih sering diajarkan sebagai bahasa hidup, dengan target kemampuan komunikatif yang jelas. Dialek tidak dihindari, tetapi justru dipeluk: mahasiswa belajar Fusha untuk membaca berita, artikel, dan teks formal, sekaligus mempelajari satu dialek—Mesir, Syam, atau lainnya—untuk percakapan sehari-hari. Pendekatan terintegrasi ini mengizinkan mereka melakukan alih-kode secara wajar, seperti penutur asli: Fusha di seminar, dialek di warung kopi. Di sini, diglosia bukan masalah yang dihindari, tetapi kenyataan yang dihadapi secara langsung.

Di Nusantara, cerita lain berlangsung. Tradisi pengajaran seperti sorogan dan bandongan tetap bertahan, membawa bersamanya kedalaman pemahaman teks, ketelitian dalam i’rab, dan kedisiplinan akademik. Grammar Translation Method masih kuat menggenggam banyak kelas, dengan qawaid wa tarjamah sebagai menu utama. Hasilnya: mahasiswa yang mampu menjelaskan kaidah dengan detail, tetapi sering gugup saat diminta bercakap-cakap spontan. Sementara itu, Communicative Language Teaching sudah mulai masuk, namun kadang disambut dengan curiga: dianggap “kurang serius” atau “mengorbankan kemurnian bahasa”.

Di tengah tarik-menarik ini, kehadiran kecerdasan buatan menambah satu lapisan baru. Di layar ponsel atau laptop, tiba-tiba muncul “penutur Arab virtual” yang siap diajak bicara kapan saja, menjawab pertanyaan, mengoreksi tulisan, bahkan menyusun teks Arab yang rapi dalam hitungan detik. Bagi mahasiswa yang kesulitan mencari partner bicara, ini seperti pintu darurat yang menyelamatkan. Mereka bisa berlatih muhadatsah tanpa takut dihakimi, meminta contoh kalimat, atau menguji pemahaman mereka terhadap suatu struktur.

Namun, seperti semua alat yang kuat, AI datang dengan sisi gelapnya. Sesekali, ia menjelaskan i’rab dengan sangat meyakinkan, padahal keliru; sesekali ia “mengarang” rujukan, atau terlalu bias pada Fusha formal, seakan-akan tidak ada variasi dialek lain. Beberapa siswa mulai tergoda untuk menyerahkan seluruh proses menulis tugas pada mesin, mengorbankan kesempatan belajar yang seharusnya mereka jalani sendiri. Di titik ini, peran guru kembali menguat, bukan sebagai satu-satunya sumber pengetahuan, tetapi sebagai penjaga arah: mengajarkan cara memanfaatkan AI sebagai mitra, bukan sebagai pengganti.

Jika semua fragmen ini kita tarik dalam satu garis waktu, tampak jelas bahwa pembelajaran bahasa Arab bergerak dari kelas-kelas tradisional yang penuh kitab, ke kelas-kelas modern yang penuh proyek dan notifikasi, lalu kini memasuki ruang hibrid tempat tradisi, teknologi, dan AI berdialog. Tidak ada satu pun teori yang mampu menjelaskan dan menyelesaikan semuanya sendirian. Behaviorisme membantu saat kita butuh kebiasaan dan otomatisasi; kognitivisme menyadarkan kita bahwa otak punya batas; konstruktivisme dan humanisme mengingatkan bahwa pengetahuan dibangun bersama dan perasaan harus dijaga; pendekatan terintegrasi menunjukkan bahwa diglosia bisa dikelola, bukan dihindari; AI membuka kemungkinan paparan dan personalisasi yang dulu tak terbayangkan.

Pada akhirnya, masa depan pengajaran bahasa Arab tampaknya akan ditentukan oleh keberanian kita untuk menjahit semua ini menjadi satu kain yang utuh. Kain yang tidak membuang motif lama hanya karena usang, tetapi juga tidak takut menambahkan pola baru. Di satu sisi, ia tetap memberi ruang bagi sorogan, bandongan, dan kajian turats. Di sisi lain, ia menyambut integrasi dialek, metode komunikatif, dan partner AI yang siap membantu kapan saja. Di tengah-tengahnya, berdiri para pembelajar yang tidak hanya ingin lulus ujian, tetapi ingin benar-benar hidup di dalam bahasa: berpikir, merasa, bercanda, meneliti, dan berdoa dalam bahasa Arab dengan cara yang manusiawi dan relevan dengan zamannya.

Share:
Tags: AI dalam pendidikanAmmiyahbahasa arabbandonganbehaviorismeChatGPTCLTdiglosiaFushagamifikasihumanistikIntegrated Approachkognitivismekurikulum bahasa Arabmetode tradisionalmotivasi belajarneurokognitifpembelajaran bahasa arabsorogan
Related Posts
taksonomi evaluasi bahasa arab
Taksonomi Evaluasi Bahasa Arab: Diagnostik, Formatif, dan Sumatif

Dalam praktik pendidikan bahasa Arab, evaluasi sering kali dipersempit maknanya menjadi sekadar ujian akhir semester. Padahal, dalam perspektif akademik dan…

pengertian evaluasi, penilaian, pengukuran, tes
Memahami Perbedaan Evaluasi, Asesmen, Pengukuran, dan Tes dalam Pembelajaran Bahasa Arab

Dalam pembelajaran bahasa Arab, istilah evaluasi, asesmen, pengukuran, dan tes hampir selalu muncul bersamaan. Keempatnya sering digunakan dalam RPS, modul…

Post navigation

Prev
Next
Write a comment Cancel Reply

© 2025 Cakis.id is Proudly Powered by Muhammad Ismail